Kenapa disebut preman berjubah?

June 2, 2008 at 3:53 am | In agama, sosial | Leave a Comment

Gak habis pikir deh ngeliat fenomena keberagamaan di Indonesia. Semua Muslim dan organisasi Islam yakin dan tegas ngomong kalo Islam itu agama kedamaian. Tapi gimana orang mau percaya? Emang sih ada yang ngomongnya dengan baik2 dan menyejukkan sambil mengamini kalau memang ada umat Islam yang suka berlaku anarkis. Tapi yang lebih banyak kelihatan itu yang ngomongnya dengan berapi-api (emosi dan marah2 gitu) dan sambil mengacungkan bambu dan pedang, dan bilang Islam itu agama kedamaian…

Saya gak tahu, dari mana istilah preman berjubah itu. Mungkin memang mereka tokoh2 agama seperti syaikh dan ulama yang setiap harinya memang suka pake jubah putih tapi kebetulan bawa pedang, bambu runcing dan demo dijalan-jalan? Atau mereka itu mantan atau masih berprofesi sebagai preman yang kebetulan berpakaian jubah?

Tapi emang kontras, satu sisi orang berjubah itu identik dengan mau shalat dan ke mesjid, setidaknya orang baik2 gitu, di sisi lain orang itu bawa senjata, teriak2 emosional, mukulin orang, layaknya preman, kaya kasus di berita ini.

Jadi, entah itu sebutan dari mana, mungkin pertanyaannya berubah. Apakah sebutan itu sesuai atau tidak sesuai dengan fenomena yang digambarkan?

sekolah pagi atau siang tak akan kurangi kemacetan

January 25, 2008 at 6:54 am | In sosial | Leave a Comment

Problem kemacetan di jakarta kok mau diselesaikan dengan cara minterin. Ya, problemnya gak akan berkurang tapi malah menimbulkan masalah lain dong.

Kemacetan di Jakarta itu kan akibat problem yang kompleks: public transport yang buruk, jalan yang dipake jadi pasar, mutu sekolah yang jomplang jadi maunya ke sekolah favorit, kebijakan perpajakan mobil yang menguntungkan orang kaya dan malah menambah banyak kendaraan di jalan, infrastruktur jalan yang tidak memihak pejalan kaki dan pesepeda, kebijakan laju pertumbuhan penduduk yang nol, kebijakan ekonomi yang pro konglomerat, dst.

Emang sih kelihatannya bisa nyelesein problem keterlambatan anak-anak sekolah, tapi  ini nambah problem sosial. Masalah kemacetan ini sebenarnya udah membuat problem sosial yaitu tidak ada waktu antara orang tua dan anak untuk bertemu. Otomatis anak-anak gak dididik sama orang tuanya. Ortu pergi pagi pulang malem untuk kerja. Si anak akhirnya diserahin ke guru (yang dibayar kecil dan punya anak didik bejibun) untuk mendidik di sekolah dan ke pembantu rumah tangga yang ditugaskan untuk ngurus rumah dan bukan untuk mendidik. Jadi, generasi masa depan kita sebenarnya tidak terdidik dengan baik!

Majuin jam belajar di sekolah tidak hanya sekedar mindahin jam kemacetan aja, tapi semakin mengurangi waktu interaksi orang tua dan anak yang sebenarnya sudah sangat sedikit. Salah siapa coba kalau anak-anak terlibat perkelahian, drugs, dan children pornography? Paling yang disalahin pendidikan ahlak. Padahal anak-anak itu belajar akhlak dari apa yang dilihatnya sehari-hari: dari jalanan, dari teman di sekolah, dari sinetron, dari pembantu di rumah, bukan dari orang tuanya…

Malaikat sibuk

January 23, 2008 at 3:50 pm | In sosial | Leave a Comment
Tags:

Berita akhir-akhir ini, isinya tentang eyang Suharto terus. Dari detil-detail laporan kondisi kesehatannya, tokoh politik yang njenguk dan tidak njenguk, doa-doa dari para tokoh agama, demonstrasi penuntasan kasus hukumnya, persiapan di Astana Giri Bangun, pro-kontra memaafkan, polemik tentang pelayanan kesehatan para mantan presiden, sampai berita tentang banyaknya dukun yang berkeliaran di sekeliling rumah sakit, semuanya intinya ya cerita ke tokoh eyang ini.

Eh, ngelihat respon dua kubu yang bertentangan antara yang menghujat dan mendoakan keselamatan eyang, malaikat pasti sibuk banget mencatatnya…. Jadi eyang ini juga menyibukkan dunia permalaikatan! Wuih hebat sekali ya…

Mujahid yang Keliru

June 19, 2007 at 2:21 am | In agama, politik | 1 Comment

Abu Bakar Baashir tidak mau kalau Abu Dujana dan kelompoknya disebut sebagai teroris. Tapi disebut sebagai “mujahid yang keliru” karena menebar bom di daerah aman. Menurut Baashir, “mestinya mereka memerangi Amerika dengan bom tapi di wilayah konflik senjata.” Beritanya lihat di Indomedia. Mungkin ini yang bisa disebut sebagai “mujahid tidak keliru” atau bahkan “mujahid yang benar” menurut Baashir? Kalau begini pola pikirnya, ini berarti ber’teroris’ ria di daerah konflik dibolehkan walaupun korbannya masyarakat sipil? Nah kalo orang Amerikanya Muslim bagaimana? Kalo yang mau diserang kebijakan politik pemerintah Amerika, kenapa yang diserang orang sipil? Terus kalau presiden Amerika ganti dan pemerintahnya ganti kebijakan politik, apakah pemerintah Amerika harus diperangi?

Memberantas kemungkaran boleh-boleh saja, tapi menjadi salah jika dilakukan dalam pola pikir yang sempit seperti diatas.

Minta Pengakuan Jasa melalui Pengadilan?

June 19, 2007 at 1:54 am | In sosial | Leave a Comment

Biasanya seseorang yang berjasa itu akan mendapat pengakuan masyarakat. Entah itu datang dari masyarakat sekitar, datang dari ilmuwan dan akademisi, dari birokrat dan negarawan, dari media, atau dari NGO. Tapii kasus ini aneh. Kelurga Gortap Sitompol terpaksa mem-pengadilankan pemerintah (SBY dan menteri keuangan) karena peran ayahnya tidak (atau belum) diakui. Menurut kelurganya, Gortap telah menyumbangkan 4 mesin percetakan untuk mencetak uang pertama republik indonesia, termasuk mencari dana dan kertas untuk mencetaknya.

Jika terbukti, ini suatu upaya yang harus dihargai dan disebutkan dalam sejarah. Mungkin harus dilakukan penelitian sejarah dan mencari saksi-saksi hidup untuk mencari kebenarannya. Tapi permintaan pengakuan keluarga Sitompul sampai menuntut ganti rugi itu kok jadi kelihatan komersial. Yang jelas pola ini menyalahi pakem yang biasa yaitu “pahlawan tanpa tanda jasa,” menjadi pahlawan menuntut jasa…

Beritanya ada di Lampungpos.

Interpelasi dan kritik sehat

June 9, 2007 at 3:22 am | In politik | 1 Comment

Tahu kalo interpelasi nuklir Iran gak berhasil, sekarang sekitar 125 anggota DPR sudah menandatangani ide untuk interpelasi lagi. Kali ini dicari isu yang panas: lumpur panas Lapindo.

Kelihatannya pola kerja seperti ini seperti pola kerja preman. Kuat-kuatan aja. Kalo presidennya punya niat baik, seperti Gus Dur dulu, toh akhirnya harus terjegal karena ulah permainan politik ini. Bagi penguasa korup, revolusi dan penjegalan itu dianggap lumrah. Tapi siapa bisa menjamin tradisi jegal menjegal ini bisa hanya ditujukan kepada pemerintah korup saja?

Gimana pemerintah mau kerja lurus kalau diganggu terus? Maka tidak heran jika pemerintah yang berkuasa atau partai yang berkuasa kemudian menggalang kekuatan juga supaya tidak digonjang ganjing. Ndilalahnya (semoga pemerintahan SBY tidak kesitu), penggalangan kekuasaan dan kekuatan itu ya dengan militer dan partai. Seperti Orde Baru lah. Jadi, apa yang dilakukan oleh DPR saat ini malah memberi potensi pemerintah untuk ber-ordebaru.

Harusnya, kritik itu dilakukan seperti supervisor mengeritik thesis. Kritiknya yang super pedas dan mematikan (sampe mahasiswa jungkir balik dibuatnya) baik itu substansi, bahasa, dan struktur, itu dilakukan untuk merubah thesis menjadi baik, bukan untuk membuat thesis itu mati dan mahasiswa drop out. Eh, tapi ada juga supervisor yang tidak baik dan tidak melakukan seperti yang seharusnya…

1/3 Dana DKP ternyata untuk DPR

June 7, 2007 at 12:31 am | In sosial | Leave a Comment

Ternyata….., begitulah fakta catatan pengeluaran dana non bujeter DKP yang dibukukan Andin Taryoto, mantan sekjen DKP. Ini beritanya dari Detik. Olala… tambah pusing jadinya. Bukan hanya itu, catatan Rokhim memperlihatkan kalo dana non bujeter itu dipakai buat macam-macam bahkan diantaranya buat zakat dan infak. Kelihatannya blunder ini berasal dari sistem keuangan negara yang tidak benar.

Interpelasi: mau ‘nggugat’ malah ‘tergugat’

June 7, 2007 at 12:16 am | In politik | Leave a Comment

Lucu menyaksikan DPR yang gusar (ups sebetulnya gak semua, tapi yang kelihatan begitu khususnya dari anggota Golkar dan PDIP) karena isu nuklir Iran. Isu nuklir dipakai untuk bisa menggugat SBY ternyata tidak mendapat dukungan publik. Bahkan sebaliknya membuat image DPR semakin terpuruk, ruk, ruk…. Beberapa opini bemunculan di berbagai media (Republika, Republika 6 Juni) yang hampir semua mengkritik tingkah polah DPR ini. Kebanyakan menganggap aneh bin ajaib DPR kok nekad mau bikin interpelasi. Kayak’ gak ada kerjaan lain aja. DPR memang harus melakukan kritik, tapi kok kritiknya tidak berdasar pada top skala prioritas keinginan rakyat. Hmm pikir-pikir, kasus apa ya yang sudah betul-betul diperjuangkan DPR sampai tuntas ya? Berita yang sering dilihat DPR jalan-jalan ke luar negeri dan menuntut fasilitas yang mewah. Inilah jika DPR lebih mementingkan agenda kuasa dibandingkan agenda rakyat. Bisa gak ya kita bikin mosi tidak percaya kepada beberapa anggota dewan yang kerjanya cuma mementingkan agenda kuasa ini? 

Untung Sutiyoso tidak pakai peci…

June 2, 2007 at 4:21 am | In sosial | Leave a Comment

Haha, baru kena batunya Sutiyoso. Itulah kalau pejabat di Indonesia itu sudah biasa selalu dielu-elu dan dihormati setinggi langit. Makanya ketika diluar negeri kaget betul karena diperlakukan sama dihadapan hukum. Kenapa para polisi itu berani meminta kunci serep untuk kemudian masuk kamar hotel dimana Sutiyoso menginap? Tentu saja, karena itu memang prosedur untuk mereka yang dikategorikan (diduga) penjahat kemanusiaan atas peristiwa Balibo tahun 1975. Malah polisi-polisi itu sedikit sopan karena minta staf hotel untuk mbukain pintu dan cuma mau ngasih surat panggilan aja untuk bersaksi di pengadilan. Menjadi pejabat publik di Australia orang pasti sudah kebal dengan tidak hanya kritik, tapi makian, tempelengan, dan lemparan telor busuk! Hampir tiap hari ada kartun yang mengolok-olok (kalo di Indonesia dibilang “menghina”) perdana menteri John Howard. Itu sudah biasa… Jadi gak perlu lah Sutiyoso menyuruh orang demo ke kedutaan Australia.

Terus kenapa untung Sutiyoso gak pake peci? Soalnya kasus David Hicks yang sedang ramai diberitakan menambah image buruk bagi Islam di Australia. Nah dalam kasus Balibo yang kemudian hangat diberitakan, foto Yunus Yosfiah dan Sutiyoso dipampang besar di sebuah harian nasional. Ditampakkan Yunus Yosfiah seorang Muslim yang taat yang ternyata “tangannya berdarah-darah” karena memerintahkan pembunuhan wartawan Australia di Balibo itu. Jadi Muslim di Australia bisa sedikit lega karena Sutiyoso tidak tergambar sebagai Muslim yang taat (dari sisi pakaian). Kalau ya, berarti lagi-lagi menambah image buruk tentang Islam. Mana disebut-sebut Sutiyoso itu calon presiden 2009 lagi!

Tahun lalu juga ada tiga murid sekolah Islam (salah satunya anak Indonesia) yang merobek dan maaf mengencingi Injil. Tapi yang ini audiens Australia agak cuek karena bagi mereka Injil toh realnya memang sebuah buku. Tapi kalau masalah human rights….. hmm jangan coba-coba. Jadi kasihan deh bagi pejabat publik yang (dianggap) pernah melanggar HAM…, karena mereka tidak akan nyaman berada di luar negeri.

Pesimis kalau kasus dana DKP akan dilanjutkan

May 29, 2007 at 6:27 am | In politik | Leave a Comment

Iya pesimis. Karena kasus ini seperti gunung es. Kalau dibuka, kasus-kasus lain dibawahnya bermunculan dan melibatkan banyak sekali aktor pemerintah, organisasi masyarakat, termasuk para pejabat yang sebagian ada di DPR dan MPR. Selain itu, departemen-departemen lain pasti juga punya dana seperti DKP yang dihambur-hamburkan untuk partai politik dan ormas-ormas (yang diminta untuk mendukung partai politik dan pemerintah). Ini padahal ditengarai sebagai dana sosial! SBY pun gak akan mau meneruskan kasus ini –walaupun dia jengkel banget sama Amien Rais — karena SBY bisa tersangkut kasus ini juga.  

Amien Rais pun gertak sambal dengan berjanji akan mengungkap dana-dana kampanye capres dan cawapres. Aneh lagi nih Amien. Yang namanya dana kampanye itu kan dari dulu juga udah kelihatan boroknya tapi panwaslu dan KPU gak bisa apa-apa (hehe KPUnya juga borokan soalnya). Menurut peraturan individu maupun perusahaan boleh kok menyumbang dana kampanye. Cuma memang yang diatur adalah jumlahnya. Makanya ada sumbangan-sumbangan fiktif. Jadi gertakan Amien untuk mengobok-obok dana kampanye kelihatannya tidak akan berbunyi. Amien menggertak supaya dia lolos dari kejaran kasus DKP…

Next Page »

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.